“Karate Sebagai Beladiri dan Olahraga Beladiri”

 

MAKALAH

Karate Sebagai Beladiri dan Olahraga Beladiri

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah “Olahraga Beladiri Karate

Dosen Pengampu : Bapak Eko Yulianto, ST., MM

 



Disusun Oleh :

1.    Abdulloh (20208500053)

Kelas :  B Semester 5

 

 

 

Prodi Pendidikan Olahraga (POR)

STKIP KUSUMA NEGARA
2022




KATA PENGANTAR

            Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah tentang Karate Sebagai Beladiri dan Olahraga Beladiri” ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya. Di dalam makalah ini, saya akan menjelaskan sejarah karate di Jepang, di Dunia, di Indonesia, aliran perguruan karate, pengertian dan definisi karate tradisional dan karate official, konsep-konsep berlatih karate, peran olahraga karate bagi perkembangan dan kemajuan prestasi olahraga di Indonesia, contoh studi kasus potensi olahraga karate sebagai pembentukan karakter.

Saya menyadari bahwa makalah ini masih sangat jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu saya harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi saya dan bagi semua pihak pada umumnya, semoga Ridho Allah menyertai kita semua. Amin Ya Robbal Alamin.

 

 

                                                                                                    Tangerang, 12 Oktober 2022

 

 

                                                                                        Penyusun

 

 

 

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.. ii

DAFTAR ISI. iii

BAB I PENDAHULUAN.. 1

1.      Latar Belakang. 1

2.      Rumusan Masalah.. 5

3.      Tujuan Penulisan.. 5

BAB II PEMBAHASAN.. 6

1.      Sejarah Karate Di Jepang. 6

2.      Sejarah Karate Di Dunia. 9

3.      Sejarah Karate Di Indonesia. 11

4.     Aliran Perguruan Di Karate. 13

5.      Pengertian dan Definisi Karate Tradisional dan Karate Official 14

6.     Konsep-konsep Berlatih Karate. 16

7.      Peran Olahraga Karate Bagi Perkembangan dan Kemajuan Prestasi Olahraga di Indonesia   17

8.     Contoh Studi Kasus Potensi Olahraga Karate Sebagai Pembentukan Karakter  21

BAB III PENUTUP.. 28

1.      Kesimpulan.. 28

2.      Saran.. 28

DAFTAR PUSTAKA.. 29


BAB I
PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang

Olahraga Karate adalah salah satu cabang olah raga bela diri yang berasal dari Negara Jepang. Karate yang terdiri dari kata” kara” mempunyai arti kosong dan “te ” berarti tangan dan “do” jalan . Jadi secara keseluruhan Karate-do mempunyai arti berjalan dengan tangan kosong yang bertujuan untuk meningkatkan kedisiplinan, kepribadian serta membentuk manusia seutuh nya yang memiliki ciri khas pribadi yang luhur, berbudi pekerti, memiliki semangat juang yang tingi serta menjung-jung tinggi nilai etika dan memiliki kedewasaan mental.

Karate sebagai seni beladiri maupun sebagai sarana dan prasarana untuk meningkatkan kesegaran jasmani seutuhnya. Olahraga karate sudah lama dikenal sebagai seni beladiri tanpa menggunakan senjata maka dalam Karate-Do setiap angota badan dilatih secara sistematis sehingga pada gilirannya menjelma menjadi senjata yang ampuh dan sanggup melumpuhkan satu gerakan lawan.

Olahraga beladiri karate bisa termotivasi degan cara pengendalian emosional seseorang, serta mendidik seseorang menjadi berani, disiplin serta mampu mengambil suatu keputusan yang baik. Selain Olahraga karate ada juga wadah menyalurkan bakat dan minat juga merupakan suatu cabang Olahraga prestasi yang dipertandingkan baik diantara regional maupun internasional.

Karate-Do merupakan Budo atau seni beladiri yang sangat mulia. Karate-Do ini ibarat benda tajam atau obat kuat, bila digunakan secara keliru akan menimbulkan bencana atau petaka, tetapi jika digunakan secara tepat akan sangat bermanfaat. Oleh karena itu seseorang yang benar-benar berlatih karate tidak akan mudah tersesat kedalam perkelahian karena dia sadar bahwa satu serangan dapat menimbulkan celaka bahkan kematian bagi lawannya tersebut. Maka dari itu senantiasa di tekankan kepada anggota yang mengikuti ilmu beladiri karate agar tidak menyalah gunakan teknik-teknik karate tersebut. Hal ini sesuai dengan falsafah karate, yaitu sangat memperlihatkan sopan santun dan rasa hormat serta rendah hati dan tidak sombong.

Karate merupakan olahraga bela diri yang mempunyai ciri khas yang dapat dibedakan dari jenis olahraga bela diri lainnya seperti Silat, Judo, Kung Fu, Kempo dan bela diri lainnya. Perbedaan ini dapat dilihat baik secara filosofi, teknik gerakan maupun atribut yang digunakan selama menjalani proses latihan dan pertandingan. Karate merupakan salah satu olahraga yang mempunyai karakteristik gerak dan tehnik tersendiri, untuk itu harus dipelajari dan dilatih secara baik dan intensif.

Sebagai salah satu cabang olahraga prestasi, terdapat nomor yang dipertandingkan dalam olahraga Karate yaitu, Kata dan Kumite. Kata adalah rangkaian beberapa Kihon yang disusun melalui proses panjang pada masa lalu ke dalam sebuah bentuk khusus yang memiliki nilai keindahan, arti filosofis yang tinggi, serta diatur oleh sebuah standardisasi yang baku dalam penerapannya. Kumite adalah pertarungan dua orang yang saling berhadapan, saling menampilkan teknik-teknik terbaik dan tetap tunduk dalam aturan yang sangat ketat (Wahid, 2007).

Seiring dengan banyaknya pertandingan yang dilaksanakan, prestasi olahraga karate di Indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat. Parameter kemajuan olahraga tersebut dapat dilihat dari hasil kejuaraan yang diikuti para karateka Indonesia di tingkat regional dan internasional. Peningkatan prestasi tersebut tidak terlepas dari latihan dan pembinaan yang terprogram dengan pendekatan metode kepelatihan secara ilmiah. Banyak unsur-unsur karate yang bisa dilatih secara ilmiah misalnya : kekuatan dan kecepatan. Seorang atlet karate harus memiliki kekuatan karena tanpa kekuatan otot-otot yang terlatih dan kuat untuk melakukan suatu teknik adalah hal yang sia-sia.

Olahraga karate merupakan salah satu olahraga yang membutuhkan kecepatan dan lebih dominan kecepatan gerakan tunggal tapi berbeda gerak. Gerakan tunggal yang berbeda gerak dapat di lihat dari tendangan oshiro geri, kekomi geri, ashi mawasi geri dan mawasi geri. Power juga salah satu unsur yang sangat penting dalam olahraga karate seperti yang tertuang dalam buku program latihan fisik penunjang atlet karate bahwa power adalah hasil dari kekuatan dan kecepatan yang dipadu pada kesempatan yang sama. Jadi teknik dalam karate sangat memerlukan kekuatan, kecepatan dan apabila dipadukan akan menghasilkan power (Nala, 2011).

Dalam karate dikembangkan teknik keterampilan pukulan dan tendangan hingga ke tingkat mahir yaitu tingkatan dimana seseorang dapat melakukan suatu gerak pukulan dan tendangan yang cepat dan tepat. Untuk memiliki gerakan pukulan dan tendangan yang cepat dan tepat diperlukan latihan yang cukup lama (minimal 3 tahun). Dengan demikian tendangan merupakan salah satu teknik yang dominan dalam karate, karena dalam teknik gerakan beladiri karate secara khusus ditentukan oleh gerakan pukulan dan tendangan. Salah satu teknik tendangan dalam karate adalah mawasi geri jodan, artinya tendangan ke arah kepala yang digunakan untuk menendang sasaran adalah punggung kaki. Pergelangan kaki harus lurus dan di kunci. Teknik dasar tendangan dalam olahraga beladiri karate adalah sebagai berikut : Mae geri (tendangan menggunakan bola-bola kaki), mawashi geri (tendangan menggunakan punggung kaki), oshiro geri (tendangan telapak kaki), kekomi geri (tendangan menggunakan sisi kaki) (Situmeang, 2006).

Pelatihan karate meliputi 4 unsur yaitu teknik, taktik, mental dan fisik. Sedangkan untuk latihan melatih kondisi fisik seorang atlet ada berbagai metode latihan di antaranya dengan menggunakan beban. Salah satu dari unsur tersebut adalah fisik yang merupakan salah satu prasyarat yang sangat diperlukan dalam setiap usaha peningkatan prestasi seorang atlet, bahkan dapat dikatakan landasan titik tolak suatu awalan olahraga prestasi (Sajoto,1988).

Pada pertandingan karate, kemenangan sangat ditentukan oleh banyaknya jumlah serangan yang dapat disarangkan ke lawan baik berupa pukulan maupun tendangan. Serangan yang dilakukan dengan pukulan hanya memperoleh nilai 1 (yuko), sedangkan serangan yang dilakukan dengan tendangan lurus ke depan memperoleh nilai 2 (waza-ari) dan serangan yang dilakukan dengan tendangan bagian atas akan memperoleh nilai 3 (ippon).

Pada cabang olahraga karate, waktu reaksi dan kecepatan menendang merupakan dua komponen fisik yang tidak bisa dipisahkan dalam satu gerakan (reaksi dan aksi). Kedua komponen fisik tersebut sangat penting bagi karateka pada waktu bergerak menghindar, menangkis, memukul dan menendang. Untuk mendapatkan waktu reaksi dan kecepatan tendangan yang cepat bagi para karateka, maka perlu dilakukan pelatihan fisik yang spesifik (Nala, 2011).

 

 

 

 

2.     Rumusan Masalah

1.       Bagaimana Sejarah Karate Di Jepang?

2.      Bagaimana Sejarah Karate Di Dunia?

3.      Bagaimana Sejarah Karate Di Indonesia?

4.      Apa saja Aliran Perguruan Karate?

5.     Apa yang dimaksud Pengertian dan Definisi Karate Tradisional dan Karate Official?

6.      Apa saja Konsep-konsep Berlatih Karate?

7.  Bagaimana Peran Olahraga Karate Bagi Perkembangan dan Kemajuan Prestasi Olahraga di Indonesia?

8.  Bagaimana Contoh Studi Kasus Potensi Olahraga Karate Sebagai Pembentukan karakter?

3.     Tujuan Penulisan

1.       Kita dapat mengetahui bagaimana sejarah karate di Jepang.

2.      Kita dapat mengetahui bagaimana sejarah karate di Dunia.

3.      Kita dapat mengetahui bagaimana sejarah karate di Indonesia.

4.      Kita dapat mengetahui apa saja aliran perguruan karate.

5.   Kita dapat mengetahui apa yang dimaksud pengertian dan definisi karate tradisional dan karate official.

6.      Kita dapat mengetahui apa saja konsep-konsep berlatih karate.

7.     Kita dapat mengetahui bagaimana peran olahraga karate bagi perkembangan dan kemajuan prestasi olahraga di indonesia.

8.     Kita dapat mengetahui Bagaimana Contoh Studi Kasus Potensi Olahraga Karate Sebagai Pembentukan karakter.

 

 

 

 

 

BAB II
PEMBAHASAN

1.      Sejarah Karate Di Jepang

Seni bela diri ini pertama kali masuk ke Jepang lewat Okinawa, dan pertama disebut dengan “Tote” yang memiliki arti seperti “Tangan China”. Awalnya, perkembangan karate terjadi di pulau Ryukyu setelah dibawa melalui Okinawa ke Jepang.. Setelah tote ini masuk ke Jepang maka kanji Okinawa diganti oleh sensei Gichin Funokashi ke dalam kanji Jepang, sehingga tote berubah menjadi karate.

Asal usul karate berasal dari seni beladiri tinju Cina diciptakan oleh Darma, guru Budha yang Agung, manakala tengah bermeditasi di Biara Shorinji, Mt-Sung, Provinsi Henan, Cina Generasi Darma selanjutnya menyebut bela diri ini dengan nama Shorinji Kempo yang berakar di Okinawa melalui kontaknya dengan Cina pada medio abad ke-14.

Lahirnya karate sebagai seni bela diri dikenal pada abad ke– 19 melalui Matsumara Shukon seseorang prajurit samurai.Sebelum jadi bagian dari jepang, Okinawa merupakan sesuatu daerah berupa kerajaan yang leluasa merdeka. Pada waktu itu Okinawa mengadakan ikatan dagang dengan pulau– pulau orang sebelah. Salah satu pulau orang sebelah yang menjalakan ikatan kokoh merupakan Tiongkok. Hasilnya Okinawa memperoleh pengaruh yang kokoh hendak budaya Tiongkok.

Sebagai pengaruh pertukaran budaya itu banyak orang- orang Tiongkok dengan latar balik yang berbeda- beda tiba ke Okinawa mengarahkan bela dirinya pada orang- orang setempat. Kebalikannya orang- orang Okinawa pula banyak yang Hijrah ke Tiongkok sekembalinya ke Okinawa mengarahkan ilmu yang telah didapatkan di Tiongkok.

Pada tahun 1477 Raja Soshin Nagamine di Okinawa memberlakukan larangan pemilikan senjata untuk kalangan pendekar. Tahun 1608 kelompok Samurai Satsuma di pimpin oleh Shimazu Lehisa masuk ke Okinawa serta senantiasa meneruskan larangan ini. Apalagi majelis hukum Bakhucon pula menghukum untuk orang yang melanggar larangan bagaikan tindak lanjut atas peraturan ini orang- orang Okinawa berlatih Okinawa te( begitu mereka menyebutnya) serta Ryuku Kobudo( Seni senjata) secara sembunyi-sembunyi mereka berlatih.

Tiga aliran pun timbul, tiap- tiap mempunyai karakteristik khas yang namanya cocok dengan wilayah asalnya, ialah: Tomori, Shuri, serta Naha. Tetapi demikian pada kesimpulannya Okinawa te mulai dianjurkan ke sekolah- sekolah tidak lama sehabis itu Okinawa jadi bagian dari Jepang, membuka jalur untuk karate masuk ke Jepang.

Gichin Funakoshi bagaikan instruktur awal ditunjuk mengadakan demonstrasi karate di luar Okinawa untuk orang- orang Jepang. Gichin Funakoshi bagaikan Ayah Karate dunia dilahirkan di Shuri, Okinawa, pada tahun 1868. Gichin Funakoshis belajar karate pada Azato serta Itosu. Sehabis berlatih begitu lama, pada tahun 1916 Gitchin Funakoshi di undang ke Jepang buat mengadakan demonstrasi di Butokukai yang ialah pusat dari segala bela diri Jepang dikala itu.

Berikutnya pada tahun 1921, Putra Mahkota yang nanti hendak jadi kaisar Jepang tiba ke Okinawa serta memohon Gichin Funakoshi buat demonstrasi karate. Untuk Gichin Funakoshi undangan ini sangat besar maksudnya sebab demonstrasi itu dicoba di arena istana Shuri. Sehabis demonstrasinya yang kedua di Jepang, Gichin Funakoshi seterusnya tinggal di Jepang sepanjang di Jepang pula Gichin Funakoshi banyak menulis buku- bukunya yang populer sampai saat ini semacam“ Ryukyu Kempo: Karate” serta“ Karate Kyoan”.

Semenjak dikala itu klub- klub karate terus bermunculan baik di sekolah serta Universitas. Gichin funakoshi tidak hanya pakar karate pula pandai dalam sastra serta kaligrafi. Nama Shotokan diperolehnya semenjak kegemarannya mendaki gunung Torao( yang berarti ekor harimai). Dimana dari situ ada banyak tumbuhan cemara tertiup angin yang bergerak seakan gelombang yang memecah dipantai.

Termotivasi oleh perihal itu Gichin funakoshi menulis suatu nama“ Shoto” suatu nama yang berarti kumpulan cemara yang bergerak seakan gelombang, serta“ Kan” yang berarti ruang ataupun balai utama tempat murid- muridnya berlatih. Simbol harimau yang digunakan karate shotokan yang dilukis oleh Hoan Kosugi( Salah satu murid awal Gichin Funakoshi), menuju kepada filosofi tradisional Tiongkok yang memiliki arti kalau“ Harimau tidak sempat tidur”.

Digunakan dalam karate Shotokan sebab bermakna kewaspadaan dari harimau yang lagi terpelihara serta pula ketenangan diri benak yang damai yang dialami Gichin Funakoshi kala lagi mencermati suara gelombang tumbuhan cemara dari atas Gunung Torao. Sekalipun Gichin Funakoshi tidak sempat berikan nama pada aliran karatenya, murid- muridnya mengambil nama itu buat dojo yang didirikannya di Tokyo dekat tahun 1936 bagaikan penghormatan pada si guru.

Shotokan merupakan karate yang memiliki karakteristik khas bermacam- macam metode pukulan, tendangan serta lompatan, gerakan yang ringan serta kilat. Gichin Funakoshi yakin kalau hendak memerlukan waktu seumur hidup buat berlatih memahami buat penekanan raga serta bela diri. Gichin Funakoshi mempertegas keyakinannya kalau karate merupakan suatu seni. Berikutnya Gicin Funakoshi menarangkan arti kata“ kara” pada karate menuju kepada watak kejujuran, rendah hati dari seorang. Meski demikian watak kesatria senantiasa tertanam dalam kerendahan hatinya, demi keadilan berani maju sekalipun berjuta lawan tengah menunggu.

Bersamaan bertambahnya waktu, kala abad ke 19 Masehi, Okinawa juga jadi salah satu bagian dari negeri Jepang. Tote juga pula terus menjadi tumbuh di negeri Jepang serta sedikit hadapi pergantian pada pola gerakannya yang setelah itu diberi nama Okinawa– te.

Gichin Funakoshi ialah salah satu guru besar dari Okinawa– te yang mengganti nama tote jadi Karate serta dibentuknya WKF( World Karate Federation) pada bertepatan pada 10 Oktober 1970 buat mengendalikan seluruh permasalahan karate di dunia.

2.     Sejarah Karate Di Dunia

Karate (  ) adalah seni bela diri yang berasal dari Jepang. Seni bela diri karate dibawa masuk ke Jepang lewat Okinawa. Seni bela diri ini pertama kali disebut “Tote” yang berarti seperti “Tangan China”. Waktu karate masuk ke Jepang, nasionalisme Jepang pada saat itu sedang tinggi-tingginya, sehingga Sensei Gichin Funakoshi mengubah kanji Okinawa (Tote: Tangan China) dalam kanji Jepang menjadi ‘karate’ (Tangan Kosong) agar lebih mudah diterima oleh masyarakat Jepang. Karate terdiri dari atas dua kanji. Yang pertama adalah ‘Kara’ 空 dan berarti ‘kosong’. Dan yang kedua, ‘te’ 手, berarti ‘tangan'. Yang dua kanji bersama artinya “tangan kosong” 空手 (pinyin:kongshou).

Pada tahun 1923, Gichin Funakoshi untuk pertama kalinya memperagakan Te atau Okinawa-Te ini di Jepang. Berturut-turut kemudian pada tahun 1929 tokoh-tokoh seperti Kenwa Mabuni, Choyun Miyagi berdatangan dari Okinawa dan menyebarkan karate di Jepang. Kenwa Mabuni menamakan alirannya Shitoryu, Choyun Miyagi menamakan alirannya Gojuryu, dan Gichin Funakoshi menamakan alirannya Shotokan. Masutatsu Oyama kemudian secara resmi juga mendirikan aliran Karate baru yang dinamakan Kyokushin pada tahun 1956.

Okinawa Te ini yang telah dipengaruhi oleh teknik-teknik seni bela diri dari Cina, sekali lagi berbaur dengan seni bela diri yang sudah ada di Jepang, sehingga mengalami perubahan-perubahan dan berkembang menjadi Karate seperti sekarang ini. Berkat upaya keras dari para tokoh ahli seni bela diri ini selama periode setelah Perang Dunia II, Karate kini telah berkembang pesat ke seluruh dun ia dan menjadi olah raga seni bela diri paling populer di seluruh dunia.

Menurut Zen-Nippon Karatedo Renmei/Japan Karatedo Federation (JKF) dan World Karatedo Federation (WKF), yang dianggap sebagai gaya karate yang utama yaitu:

a.      Shotokan

b.      Goju-Ryu

c.       Shito-Ryu

d.      Wado-Ryu

Keempat aliran tersebut diakui sebagai gaya Karate yang utama karena turut serta dalam pembentukan JKF dan WKF.

Namun gaya karate yang terkemuka di dunia bukan hanya empat gaya di atas itu saja. Beberapa aliran besar seperti Kyokushin, Shorin-ryu dan Uechi-ryu tersebar luas ke berbagai negara di dunia dan dikenal sebagai aliran Karate yang termasyhur, walaupun tidak termasuk dalam "4 besar WKF".

Di negara Jepang, organisasi yang mewadahi olahraga Karate seluruh Jepang adalah JKF. Adapun organisasi yang mewadahi Karate seluruh dunia adalah WKF (dulu dikenal dengan nama WUKO - World Union of Karatedo Organizations). Ada pula ITKF (International Traditional Karate Federation) yang mewadahi karate tradisional. Adapun fungsi dari JKF dan WKF adalah terutama untuk meneguhkan Karate yang bersifat "tanpa kontak langsung", berbeda dengan aliran Kyokushin atau Daidojuku yang "kontak langsung".

3.     Sejarah Karate Di Indonesia

Masuknya seni bela diri karate ke Indonesia awal kali dipelopori oleh Mahasiswa Indonesia yang sudah menuntaskan studinya di Jepang. Serta beberapa dari mereka yang bernama Baud Adikusumo, Muchtar serta Karyanto setelah itu mendirikan dojo yang menghadirkan salah satu aliran karate ialah Shotokan.

Dojo ini sendiri didirikan pada tahun 1963 di Jakarta. Serta tahun berikutnya, mereka pula membuat sesuatu wadah buat perkumpulan karate yang diucap dengan PORKI( Persatuan Berolahraga Karate Indonesia).Kemudian, tiba lagi beberapa mahasiswa yang sudah menempuh ilmu di Jepang, antara lain Setyo Haryono, Anton di Lesiangi, Chairul Halaman serta Sabeth Muchsin, Marcus Basuki yang pula ikut meningkatkan karate di Indonesia.

Dalam catatan sejarah pertumbuhan karate Indonesia pula tidak luput dari kedatagan pakar karate dari Jepang semacam Masatoshi Nakayama Shotokan, Oishi Shotokan, Nakamura Shotokan, Kawawada shotokan, Matsusaki Kushinryu, Masutatsu Oyama Kyokushinryu, Ishilshi Gojuryu dan Hayashi Shitoryu.

Memandang antusiasme dari warga nusantara hendak karate ini menimbulkan karate berkembang dengan pesat di tanah air serta perihal itu bisa dilihat dari banyaknya organisasi karate.Tetapi, sebab terdapatnya ketidakcocokan para tokoh karate tersebut, pada kesimpulannya PORKI juga hadapi perpecahan.

Sehingga pada tahun 1972., dengan terdapatnya itikad baik guna menyatukan karate, dibentuklah wadah organisasi baru bernama FORKI( Federasi Berolahraga Karate Do Indonesia).Terus menjadi populernya karate di Indonesia, kesimpulannya berdirilah akademi karate di nusantara.

Dengan terus menjadi besarnya pengaruh karate di tanah air, pada kesimpulannya diubahlah nama PORKI( Federasi Berolahraga Karate Do Indonesia) jadi FORKI( Federasi Berolahraga Karae Indonesia) yang dimana FORKI jadi induk organisasi seluruh akademi karate di Indonesia.

FORKI( Federasi Olahraga Karate- Do Indonesia) saat ini sudah jadi perwakilan WKF( Wordl Karate Federation) buat Indonesia.

Dibawah tutorial FORKI inilah, para Karateka dari Indonesia bisa berlaga di forum Internasional paling utama yang disponsori oleh WKF.

Forki ataupun( Federasi Olah Raga Karate– do Indonesia) mempunyai lambang yang dimana makna dari lambang lambang FORKI yang berupa segi 5 dengan garis dasar membentuk sudut melambangkan olah raga karate yang dibina oleh FORKI, berdiri atas dasar semangat revolusi 17 Agustus 1945, berazaskan Pancasila serta Sumpah Karate.

Ada pula sebagian tokoh karateka Indonesia, antara lain merupakan bagaikan berikut:

a.      Baud Adikusumo( INKADO)

b.      Sabeth Mukhsin( INKAI)

c.       Anton Lesiangi( LEMKARI)

d.      Nardit T( WADOKAI)

e.      Bert Lengkong( SHINDOKA)

f.        Chairul Halaman( KHUSHINKAI)

g.      Setyo Haryono( GOJU RYU)

h.     Marcus Basuki( SHITORYU)

4.     Aliran Perguruan Di Karate

a.    Shotokan Shoto adalah nama pena Gichin Funakoshi, -Kan dapat diartikan sebagai gedung/bangunan sehingga shotokan dapat diterjemahkan sebagai Perguruan Funakoshi. Gichin Funakoshi merupakan pelopor yang membawa ilmu karate dari Okinawa ke Jepang. Aliran Shotokan merupakan akumulasi dan standardisasi dari berbagai perguruan karate di Okinawa yang pernah dipelajari oleh Funakoshi. Berpegang pada konsep Ichigeki Hissatsu, yaitu satu gerakan dapat membunuh lawan. Shotokan menggunakan kuda-kuda rendah serta pukulan dan tangkisan yang keras. Gerakan Shotokan cenderung linier/frontal, sehingga praktisi Shotokan berani langsung beradu pukulan dan tangkisan dengan lawan.

b.   Goju-ryu Goju memiliki arti keras-lembut. Aliran ini memadukan teknik keras dan teknik lembut, dan merupakan salah satu perguruan karate tradisional di Okinawa yang memiliki sejarah yang panjang. Dengan meningkatnya popularitas Karate di Jepang (setelah masuknya Shotokan ke Jepang), aliran Goju ini dibawa ke Jepang oleh Chojun Miyagi. Miyagi memperbarui banyak teknik-teknik aliran ini menjadi aliran Goju-ryu yang sekarang, sehingga banyak orang yang menganggap Chojun Miyagi sebagai pendiri Goju-ryu. Berpegang pada konsep bahwa "dalam pertarungan yang sesungguhnya, kita harus bisa menerima dan membalas pukulan". Sehinga Goju-ryu menekankan pada latihan Sanchin atau pernapasan dasar, agar para praktisinya dapat memberikan pukulan yang dahsyat dan menerima pukulan dari lawan tanpa terluka. Goju-ryu menggunakan tangkisan yang bersifat circular serta senang melakukan pertarungan jarak rapat.

c.  Shito-ryu Aliran Shito-ryu terkenal dengan keahlian bermain kata terbukti dari banyaknya kata yang diajarkan di aliran Shito-ryu, yaitu ada 30 sampai 40 kata, lebih banyak dari aliran lain. Namun yang tercatat di Jepang ada 111 kata beserta bunkainya. Sebagai perbandingan, Shotokan memiliki 25, Wado memiliki 17, Goju memiliki 12 kata. Dalam pertarungan, ahli Karate Shito-ryu dapat menyesuaikan diri dengan kondisi, mereka bisa bertarung seperti Shotokan secara frontal, maupun dengan jarak rapat seperti Goju.

d. Wado-ryu Wado-ryu adalah aliran Karate yang unik karena berakar pada seni beladiri Shindo Yoshin-ryu Jujutsu, sebuah aliran beladiri Jepang yang memiliki teknik kuncian persendian dan lemparan. Sehingga Wado-ryu selain mengajarkan teknik Karate juga mengajarkan teknik kuncian persendian dan lemparan/bantingan Jujutsu. Di dalam pertarungan, ahli Wado-ryu menggunakan prinsip Jujutsu yaitu tidak mau mengadu tenaga secara frontal, lebih banyak menggunakan tangkisan yang bersifat mengalir (bukan tangkisan keras), dan kadangkadang menggunakan teknik Jujutsu seperti bantingan dan sapuan kaki untuk menjatuhkan lawan. Akan tetapi, dalam pertandingan FORKI dan JKF, para praktisi Wado-ryu juga mampu menyesuaikan diri dengan peraturan yang ada dan bertanding tanpa menggunakan jurus-jurus Jujutsu tersebut.

5.    Pengertian dan Definisi Karate Tradisional dan Karate Official

 


 

 

 

 

 


Karate tradisional hanya fokus dengan tehnik dan pergerakan, sehingga aman bagi anak-anak. Karate Tradisional adalah wujud dari suatu kesatuan Cabang Olahraga yang baku yaitu Cabang Olahraga Beladiri Karate Tradisional.

Karate tradisional sama seperti taekwondo tradisional, juga tidak mengenal body protektor di kepala, wajah, tubuh, dan kaki. Bahkan tidak mengenal kelas berdasarkan ukuran berat badan.

Berbeda dengan karate maupun taekwondo modern yang lebih melindungi atlet serta inovasi-inovasi sitem pertandingan. Sehingga lebih menarik untuk ditonton dan lebih kekinian daripada tradisional yang (maaf) terkesan kekunoan.

Karate adalah jenis olahraga tradisional yang berasal dari Jepang, di mana orang bertarung menggunakan lengan, tangan, tungkai dan kaki mereka. Tingkat keterampilan yang dimiliki seseorang ditunjukkan oleh sabuk warna apa yang mereka kenakan.

Karate tradisional adalah pertempuran dan pertahanan diri, meskipun aspek mental dan moralnya menargetkan peningkatan keseluruhan individu. Ini difasilitasi oleh disiplin dan upaya gigih yang diperlukan dalam pelatihan.

Karate adalah satu cabang olahraga bela diri yang hanya menggunakan tangan kosong, alasan dikatakan menggunakan “tangan kosong” karena memang tidak menggunakan peralatan apapun, hanya menggunakan kaki dan tangan sebagai alat untuk melepaskan kekuatan serangan, pukulan, serta tendangan.

Pada zaman sekarang karate juga dapat dibagi menjadi aliran tradisional dan aliran olah raga. Aliran tradisional lebih menekankan aspek bela diri dan teknik tempur sementara aliran olah raga lebih menumpukan teknik-teknik untuk pertandingan olah raga.

 

6.     Konsep-konsep Berlatih Karate


a.      Rakka (Bunga yang berguguran)

Ia adalah konsep bela diri atau pertahanan di dalam karate. Ia bermaksud setiap teknik pertahanan itu perlu dilakukan dengan bertenaga dan mantap agar dengan menggunakan satu teknik pun sudah cukup untuk membela diri sehingga diumpamakan jika teknik itu dilakukan ke atas pokok, maka semua bunga dari pokok tersebut akan jatuh berguguran. Contohnya jika ada orang menyerang dengan menumbuk muka, si pengamal karate boleh menggunakan teknik menangkis atas. Sekiranya tangkisan atas itu cukup kuat dan mantap, ia boleh mematahkan tangan yang menumbuk itu. Dengan itu tidak perlu lagi membuat serangan susulan pun sudah cukup untuk membela diri.

b.      Mizu No Kokoro (Minda itu seperti air)

Konsep ini bermaksud bahwa untuk tujuan bela diri, minda (pikiran) perlulah dijaga dan dilatih agar selalu tenang. Apabila minda tenang, maka mudah untuk pengamal bela diri untuk mengelak atau menangkis serangan. Minda itu seumpama air di danau. Bila bulan mengambang, kita akan dapat melihat bayangan bulan dengan terang di danau yang tenang. Sekiranya dilontar batu kecil ke danautersebut, bayangan bulan di danau itu akan kabur.

7.     Peran Olahraga Karate Bagi Perkembangan dan Kemajuan Prestasi Olahraga di Indonesia

Ilmu bela diri sebenarnya sudah dikenal semenjak manusia ada, hal ini dapat dilihat dari peninggalan-peninggalan purbakala antara lain: kapak-kapak batu, lukisan-lukisan binatang yang dibunuh dengan senjata seperti tombak dan panah.

Bela diri pada waktu itu hanya bersifat mempertahankan diri dari gangguan binatang buas dan alam sekitarnya. Namun sejak pertambahan penduduk dunia semakin meningkat, maka gangguan yang datang dari manusia mulai timbul sehingga keinginan orang untuk menekuni ilmu bela diri semakin meningkat.
Tersebutlah pada 4.000 tahun yang lalu, setelah Sidartha Gautama pendiri Budha wafat, maka para pengikutnya mendapat amanat agar mengembangkan agama Budha keseluruh dunia. Namun karena sulitnya medan yang dilalui, maka para pendeta diberikan bekal ilmu bela diri. Misi yang ke arah Barat ternyata mengembangkan ilmu Pangkration atau Wrestling di Yunani. Misi keagamaan yang berangkat ke arah Selatan mengembangkan semacam, pencak silat yang kita kenal sekarang ini. Salah satu misi yang ke Utara menjelajahi Cina menghasilkan kungfu (belakangan di abad XII, kungfu dibawa oleh pedagang Cina dan Kubilaikhan kenegara Majapahit di Jawa Timur).

Dari Cina rombongan yang ke Korea menghasilkan bela diri yang kemudian kita kenal dengan Taekwondo. Dari Korea ternyata rombongan tidak dsapat meneruskan perjalanan ke Jepang, tetapi berhenti hanya sampai di kepulauan Okinawa. Tidak berhasil masuknya rombongan ke Jepang, karena di Jepang saat itu sudah mengembangkan ilmu bela diri Jujitsu, yudo, kendo dan ilmu pedang (kenjutsu). Namun sejarah mencatat bahwa pada tahun 1600-an, Kerajaan Jepang telah menguasai Okinawa. Kerajaan Jepang telah memerintah Okinawa dengan tangan besi, penduduk dilarang memiliki senjata tajam, bahkan orang tua dilarang memakai tongkat. Diam-diam bangsa yang terjajah ini mempelajari ilmu bela diri dengan tangan kosong yang waktu itu  dikenal dengan nama TOTE. Dari satu teknik ke teknik lainnya, ilmu bela diri diperdalam dan para pendeta ikut mendorong berkembangnya ilmu bela diri TOTE ini.

Kemudian pada tahun 1921 seorang penduduk Okinawa bernama Gichin Funakoshi memperkenalkan ilmu bela diri dari TOTE ini di Jepang, dan namanya pun berubah menjadi karatre, sesuai dengan aksen Jepang dalam cara membaca huruf kanji. Sejak saat itu karate berkembang dengan pesat di Jepang.

Karate masuk di Indonesia bukan dibawa oleh tentara Jepang melainkan oleh Mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang kembakli ke tanah air, setelah menyelesaikan pendidikannya di Jepang. Tahun 1963 beberapa Mahasiswa Indonesia antara lain: Baud AD Adikusumo, Karianto Djojonegoro, Mochtar Ruskan dan Ottoman Noh mendirikan Dojo di Jakarta. Mereka inilah yang mula-mula memperkenalkan karate (aliran Shoto-kan) di Indonesia, dan selanjutnya mereka membentuk wadah yang mereka namakan Persatuan Olahraga Karate Indonesia (PORKI) yang diresmikan tanggal 10 Maret 1964 di Jakarta.

Beberapa tahun kemudian berdatangan ex Mahasiswa Indonesia dari Jepang seperti Setyo Haryono (pendiri Gojukai), Anton Lesiangi, Sabeth Muchsin dan Chairul Taman yang turut mengembangkan karate di tanah air. Disamping ex Mahasiswa-mahasiswa tersebut di atas orang-orang Jepang yang datang ke Indonesia dalam rangka usaha telah pula ikut memberikan warna bagi perkembangan karate di Indonesia. Mereka-mereka ini antara lain: Matsusaki (Kushinryu-1966), Ishi (Gojuryu-1969), Hayashi (Shitoryu-1971) dan Oyama (Kyokushinkai-1967).

Karate ternyata memperoleh banyak penggemar, yang implementasinya terlihat muncul dari berbagai macam organisasi (Pengurus) karate, dengan berbagai aliran seperti yang dianut oleh masing-masing pendiri perguruan. Banyaknya perguruan karate dengan berbagai aliran menyebabkan terjadinya ketidak cocokan diantara para tokoh tersebut, sehingga menimbulkan perpecahan di dalam tubuh PORKI. Namun akhirnya dengan adanya kesepakatan dari para tokoh-tokoh karate untuk kembali bersatu dalam upaya mengembangkan karate di tanah air sehingga pada tahun 1972 hasil Kongres ke IV PORKI, terbentuklah satu wadah organisasi karate yang diberi nama Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI).

Sejak FORKI berdiri sampai dengan saat ini kepengurusan di tingkat Pusat yang dikenal dengan nama Pengurus Besar/PB.  telah dipimpin oleh 6 orang Ketua Umum dan periodisasi kepengurusannyapun mengalama 3 kali perobahan  masa periodisasi yaitu ; periode 5 tahun (ditetapkan pada Kongres tahun 1972  untuk kepengurusan periode tahun 1972 – 1977) periodisasi 3 tahun (ditetapkan pada kongres tahun 1997 untuk kepengurusan periode tahun 1997 - 1980) dan periodisasi 4  tahun ( Berlaku sejak kongres tahun 1980 sampai sekarang).
Visi:
Mengangkat harkat, martabat dan kehormatan bangsa di dunia internasional melalui prestasi olahraga, khususnya karate.
Misi:
Mengkonsolidasikan dan mensinergikan organisasi FORKI (25 Perguruan dan  33 Penprov) dan pemangkukepentingan (stakeholders) lainnya (organisasi pemerintah, swasta, institusi pendidikan, media, masyarakat luas dan pemegang kepentingan lainnya) untuk meningkatkan prestasi olahraga Indonesia pada tingkat nasional dan internasional.

Strategi Utama Yang Padu:

Pilar I: Konsolidasi dan sinergi organisasi melalui penataan dan penyehatan.
Pilar II: Melanjutkan pembinaan & kaderisasi s/d 7 lapis mulai usia 8 th s/d senior.

Pilar III: Meningkatkan kualitas dan kuantitas atlit, pelatih dan wasit melalui program pelatihan terpadu.

Pilar IV: Meningkatkan prestasi  partisipasi & pencapaian target WKF, AKF, SEA GAMES dan ASIAN GAMES.
Pilar V: Mengembangkan kemitraan strategis dng semua pihak utk program pendanaan.

Integrasi Visi-Misi-Strategi - Program:

Pilar I:

a.      Konsolidasi dan sinergi organisasi forki

b.  Penataan dan penyehatan 25 Perguruan dan 33 Pengprov agar dikelola secara profesional , akuntabel dan efisien.

Pilar II:

a.      Melanjutkan program pembinaan & kaderisasi

b.    Fokus pada  kaderisasi s/d 7 lapis mulai usia 8 tahun s/d senior melalui kejurnas kelompok umur yang dilaksanakan setiap tahun.

Pilar III:

a.      Peningkatan kualitas pelatih dan wasit berdasarkan program terpadu.

b.    Menumbuhkembangkan pelatih secara kualitas dan kuantitas bagi 486 kabupaten dan kota.

c.     Meningkatkan kualitas wasit melalui program berstandar internasional (Misalnya: Program  Pelatihan Tommy Morris, Ketua Dewan Wasit).

d.  Mematangkan jalur karir terpadu dan pembinaan masa depan sumber daya manusia FORKI:

Atlit/Kohai/Pelatih/Wasit/Pengurus

Pilar IV

a.      Peningkatan prestasi:

b.   Melanjutkan dan meningkatkan partisipasi aktif dan prestasi dalam kejuaraan WKF, AKF dan turnamen internasional lainnya.

c.    Meningkatkan pemanfaatan dukungan sport science dan teknologi secara sistematis

d.  Memperbaiki perolehan medali pada ASIAN GAMES dan menjadi juara umum pada SEA GAMES XXVI -2011. (Diawali evaluasi intensif terhadap program-program dan - penyelenggaraan pemusatan pelatihan dimana peranan PB/PP dikedepankan)

Pilar V:

a.    Mengembangkan kemitraan strategis forki dengan pemangku kepentingan lainnya dalam rangka penggalangan dana.

b.     Konsensus dan sinergi segenap stakeholders adalah sangat vital.

8.    Contoh Studi Kasus Potensi Olahraga Karate Sebagai Pembentukan Karakter

Pengalaman yang diperoleh melalui olahraga karate dapat membentuk karakter potensi peserta didik agar menjadi jujur, disiplin, tanggung jawab,

Olahraga tidak hanya menyehatkan fisik, namun juga bisa membantu membangun pembentukan karakter. Olahraga dapat meningkatkan kemampuan dalam bekerja sama dengan tim, kepemimpinan, bersikap adil, pantang menyerah, perencanaan, serta menghargai proses.

Banyak manfaat yang bisa diperoleh dari olahraga ini, karate tidak hanya membuat badan sehat, tetapi juga membentuk mental yang baik, membentuk jiwa kompetitif yang sportif. Karena melalui karate dapat membangun jiwa dan karakter seseorang.

Dalam karate ada banyak filosofi yang bisa dipelajari untuk membangun karakter. Dalam karate, setiap peserta didik akan melafalkan Dojo Kun (kode etik wajib dalam dojo) disetiap awal dan akhir pertemuan. Master Funakoshi meyakini bahwa Dojo Kun, untuk karateka yang mendalami karate-do secara benar, tidak lagi sekedar aturan main dalam dojo, tapi justru merupakan tuntunan bagi kehidupan karateka sehari-hari. Setiap apapun yang kita pelajari di dojo, itu adalah alat kita untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya Dojo Kun pertama yang berbunyi Jinkaku Kansei ni Tsutomuru Koto (Seek perfection of characters) yang jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti (sanggup selalu) berupaya menyempurnakan kepribadian/jiwa, ini berarti bahwa seni karate lebih dari sekedar fisik. Semua pemula, khususnya kaum muda, harus diajarkan pentingnya membangun karakter melalui disiplin dan latihan keras. Latihan ditujukan untuk memotivasi munculnya semangat, untuk mengatasi masalah-masalah pribadi terutama pada saat-saat sakit, krisis, stress, dan lain-lain.

Selain itu karate juga mengajarkan tentang menghormati, sebagai mana disebutkan dalam Niju kun yang pertama yaitu karate-do wa rei ni hajimari rei ni owaru koto a wasaru na (Karate-do dimulai dan diakhiri dengan hormat).

Dengan menjalankan ajaran-ajaran tersebut diharapkan seorang karateka tidak hanya memiliki tubuh yang sehat dan kuat, tetapi juga akan terbentuk karakter anak bangsa yang seimbang jasmani dan rohani, yang akan unggul dalam dalam kehidupan dan memimpin organisasi sebagai pribadi  disiplin, tegas, berani, konsisten bersikap, dan  kompetitif, sportif, namun tetap rendah hati. Karate bukan hanya olahraga prestasi, tapi yang terpenting adalah membangun karakter. Nilai-nilai karakter yang tercantun dalam, semangat, percaya diri, disiplin, kerja keras, keberanian, estetika, pantang menyerah, tanggung jawab, mengikuti aturan kebersihan dan keselamatan. Karakter dikembangkan melalui tahap pengetahuan (knowing), pelaksanaan (acting), dan kebiasaan (habit).

Karakter tidak terbatas pada pengetahuan saja. Seseorang yang memiliki pengetahuan kebaikan belum tentu mampu bertindak sesuai pengetahuannya, jika tidak terlatih (menjadi kebiasaan) untuk melakukan kebaikan tersebut. Karakter juga menjangkau wilayah emosi dan kebiasaan diri, memiliki karakter kepribadian yang baik dan bermanfaat untuk lingkungan dimanapun.

Membentuk karakter karateka yang disiplin, jujur, bertanggjung jawab, berani, sportif, loyal, santun, dan rendah hati.

a. Remaja yang aktif dalam olahraga, penyimpangan perilakunya lebih kecil dibandingkan remaja yang tidak berpartisipasi dalam olahraga.

b.  Remaja yang terlibat dalam aktivitas fisik lebih memiliki ketahanan dan mampu mengatasi stressor dari lingkungannya.

c. Remaja pada umumnya membutuhkan dukungan sosial, tidak saja dari kelompoknya melainkan juga dari kelompok dan institusi lainnya.

d. Remaja yang terlibat aktif dalam kegiatan olahraga menunjukkan tingkat kepercayaan dirinya (self confidence) lebih tinggi daripada remaja yang tidak aktif terlibat dalam kegiatan olahraga.

Karate juga melatih peserta didik untuk memiliki karakter disiplin dan tanggung jawab. Kedisiplinan dan tanggung jawab ini dapat dibentuk melalui berbagai kegiatan karate baik latihan fisik, etika maupun nilai-nilai filosofis yang ada alam beladiri karate.

a.      Kegiatan Pembentuk Karakter Disiplin

Berikut ini merupakan beberapa kegiatan yang berkontribusi dalam pembentukan karakter disiplin peserta didik:

1)      Disiplin waktu

Waktu merupakan sesuatu yang sangat berharga, sehingga pendidik harus mampu memberikan pemahaman pada peserta didik betapa pentingnya menghargai dan memanfaatkan waktu, agar peserta didik mampu memanfaatkan waktu dengan baik sehingga muncul kedisiplinan dan rasa tanggung jawab dalam diri peserta didik. Seperti yang telah dijelaskan oleh bapak Heri Ules bahwa kegiatan ekstrakurikuler karate dimulai pada pukul 07.00 WIB, maka pada saat itu juga peserta didik harus sudah berada dilapangan untuk mengikuti kegiatan esktrakurikuler karate. Begitu pula ketika waktu kegiatan ekstrakurikuler telah habis yaitu pukul 08.05 WIB, maka siswa harus kembali ke madrasah untuk mengganti pakaian yang dipakai ketika latihan dengan seragam pada hari tersebut dan mengikuti kegiatan berikutnya. Selain tepat waktu dalam kegiatan ekstrakurikuler karate disiplin waktu juga nampak pada saat peserta didik masuk kelas tepat waktu baik saat pagi hari ataupun setelah jam istirahat selesai.

2)     Disiplin berpakaian

Pakaian yang digunakan untuk latihan karate (dogi) merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam kegiatan esrakurikuler karate. Bapak Heri Ules menjelaskan bahwa setiap peserta didik yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler karate, harus berpakaian bersih dan rapih. Pakaian yang bersih dan rapih akan memberian kenyamanan bukan hanya untuk pemakainya tapi juga untuk setiap orang yang melihatnya. Dengan menggunakan dogi yang bersih dan rapih maka peserta  didik telah mencerminkan diri sebagai karateka yang disiplin dalam berpakaian. Dalam ekstrakurikuler karate juga diajarkan agar pesrta didik mengamalkan butir sumpah karate Jinkaku Kansei Ni sutomoru Koto (Sanggup Memelihara Kepribadian) salah satunya adalah berpakaian bersih dan rapih baik saat latihan ataupun dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan disiplin dalam berpakaian bukan hanya nampak ketika kegiatan ekstrakurikuler karate namun juga ketika kegiatan diluar sekolah seperti ketika pembelajaran dikelas maupun diluar kelas.

3)     Disiplin berbaris

Berbaris merupakan salah satu wujud latihan fisik. Berbaris diperlukan guna melatih peserta didik agar lebih disiplin. Dalam berbaris karateka berbaris sesuai dengan sabuk yang dia pakai. Warna sabuk dalam karate menunjukan posisi tingkatan yang dia miliki. Melalui pembiasaan disiplin berbaris yang dilakukan ketika kegiatan ekstrakurikuler karate di MI Darul Hikmah Bantarsoka, karakter disiplin ini dapat diimplementasikan juga dalam kegiatan lain. Kedisiplinan saat berbaris bukan hanya nampak ketika kegiatan ekstrakurikuler karate namun mereka juga displin dalam hal lain seperti ketika antre berwudlu, disiplin dan rapih ketika sholat berjama’ah.

b.      Kegiatan Pembentuk Karakter Tanggung Jawab

Berikut ini merupakan beberapa kegiatan yang berkontribusi dalam pembentukan karakter tangung jawab peserta didik:

1)      Mengucapkan salam karate

Kegiatan mengucapkan salam karate, merupakan salam yang disampaikan kepada sesama karateka, senpei, dan dojo ketika sebelum dan setelah selesai kegiatan latihan. Hal ini merupakan salah satu bentuk sopan santun seorang karateka. Pengucapan salam karate merupakan salah satu wujud tanggung jawab peserta didik kepada diri sendiri, masyarakat, bangsa dan negara serta Tuhan Yang Maha Esa, yang mana pengucapan salam ini merupakan cerminan dari salah satu sumpah karate yang berbunyi sanggup mejaga sopa santun (doryokuo seishin o yoshiau koto). MI Darul Hikmah merupakan salah satu lembaga pendidikan yang menetapkan peraturan untuk selalu menjaga sopan santun dan bergul di lingkungan sekitar khusunya di lingkungan sekolah baik kepada adik kelas, teman sebaya, kaka kelas, guru dan juga orang tua. Melalui pembiasaan mengucapkan salam dalam kegiatan karate ini memberikan kesan dalam diri peserta didik sehingga dalam kehidupan sehari-hari mereka terbiasa untuk mengucapkan salam dan menjaga sopan santun.

2)     Berdoa dan mengucapkan sumpah karate

Kegiatan berdo’a dan mengucapkan sumpah karate saat memulai dan mengakhiri kegiatan ekstrakurikuler karate dilakukan oleh semua karateka secara bersama-sama dan dipimpin oleh salah satu karateka yang dipilih oleh senpei secara bergiliran dalam setiap pertemuan. MI Darul hikmah menerapkan peraturan untuk berdo’an dan asma’ul husna setiap pagi ketika hendak memulai pelajaran, serta berdoa ketika hendak pulang yaitu ketika menutup pembelajaran. Hal ini merupakan salah satu implementasi pembiasaan yang dilakukan setiap kegiatan ekstrakurikuler yaitu berdo’a dan mengucapkan sumpah karate. Adapun bunyi sumpah karate yaitu: sanggup memelihaa kepribadian (jinkaku kansei ni sutomoru koto), sanggup patuh pada kejujuran (matako no michi p mamoru koto), sanggup mempertinggi prestasi (reigi o omonzuru koto), sanggup menjaga sopa santun (doryokuo seishin o yoshiau koto), sanggup mengguasai diri (keki no yu o iashimuru koto). Dari sumpah ini kemudian tertanam karakter tanggung jawab karateka atas sumpah yang mereka ucapkan ketika memulai dan mengakhiri kegiatan. Indikator yang nampak antara lain: karateka mampu mengusai teknik yang diajarkan, menjalankan kewajibannya sebagai peserta didik seperti piket harian, mengerjakan PR dan lain-lain.

3)     Latihan keterampilan dasar karate

Kegiatan latihan keterampilan dasar karate merupakan kegiatan inti dari kegiatan ekstrakurikuler karate di MI Darul Hikmah. Kegiatan latihan keterampilan dasar karate merupakan salah satu bentuk pendidikan karakter tanggung jawab bagi peserta didik. Melalui latihan keterampilan dasar ini peserta didik harus mampu menguasai teknik-teknik yang diajarkan dan mengimplementasikannya, salah satu bentuk implementasi teknik karate yaitu ketika kumite (pertandingan). Dalam kumite karateka harus mampu mengimplementasikan teknik yang telah diajarkan agar dia mampu melindungi diri sendiri tanpa harus membahayakan lawannya. MI Darul Hikmaah mendidik peserta didik untuk mempunyai karakter tanggung jawab, baik pada diri sendiri, orang tua, masyarakat, bangsa dan negara serta Tuhan Yang Maha Esa bukan hanya dalam kegiatan ekstrakurikuler karate. Bentuk tanggung jawab tersebut juga nampak dalam kegiatan lain di Sekolah yaitu mengusai materi yang telah diajarkan dan membuang sampah pada tempatnya.

 

 

 

 

 

BAB III
P
ENUTUP

1.      Kesimpulan

Karate ( ) adalah seni bela diri yang berasal dari Jepang. Seni bela diri karate dibawa masuk ke Jepang lewat Okinawa. Seni bela diri ini pertama kali disebut "Tote” yang berarti seperti “Tangan China”. Waktu karate masuk ke Jepang, nasionalisme Jepang pada saat itu sedang tinggi-tingginya, sehingga Sensei Gichin Funakoshi mengubah kanji Okinawa (Tote: Tangan China) dalam kanji Jepang menjadi ‘karate’ (Tangan Kosong) agar lebih mudah diterima oleh masyarakat Jepang. Karate terdiri dari atas dua kanji. Yang pertama adalah ‘Kara’ 空 dan berarti ‘kosong’. Dan yang kedua, ‘te’ 手, berarti ‘tangan'. Yang dua kanji bersama artinya “tangan kosong” 空手 (pinyin: kongshou).

Menurut Zen-Nippon Karatedo Renmei/Japan Karatedo Federation (JKF) dan World Karatedo Federation (WKF), yang dianggap sebagai gaya karate yang utama yaitu:

1.       Shotokan

2.      Goju-Ryu

3.      Shito-Ryu

4.      Wado-Ryu

2.     Saran           

Demikian makalah ini dibuat semoga bermanfaat serta dapat menambahkan ilmu pengetahuan mengenai karate sebagai beladiri yang bermutasi menjadi olahraga prestasi dan saran saya harapkan agar olahraga ini tetap mendunia.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

http://digilib.unimed.ac.id/8551/6/0510311070%20BAB%20I.pdf diakses pada tanggal 12 Oktober 2022, Pukul 11.00 WIB

file:///C:/Users/SEA-ACER/Downloads/document%20(1).pdf diakses pada tanggal 12 Oktober 2022, Pukul 11.30 WIB

https://www.seputarpengetahuan.co.id/2020/05/karate.html. diakses pada tanggal 12 Oktober 2022, Pukul 14.28 WIB

https://id.scribd.com/document/425217596/sejarah-karate. diakses pada tanggal 12 Oktober 2022, Pukul 14.40 WIB

file:///C:/Users/SEA-ACER/Downloads/Tugas_Makalah_Karate.pdf. diakses pada tanggal 12 Oktober 2022, Pukul 15.00 WIB

https://terbitkanbukugratis.id/ardi-azzam/08/2021/membentuk-karakter-lewat-karate/. diakses pada tanggal 12 Oktober 2022, Pukul 15.30 WIB

https://www.sehatq.com/artikel/seputar-karate-dari-sejarah-hingga-teknik-dasarnya. diakses pada tanggal 12 Oktober 2022, Pukul 16.00 WIB

https://makalah-update.blogspot.com/2012/11/makalah-teknik-dasar-karate.html. diakses pada tanggal 12 Oktober 2022, Pukul 16.30 WIB

 

 

 

 

 

 

 

Komentar